Minggu, 31 Agustus 2014

'Full House', Rumah Impian Kami


Sejak menikah di tahun 2008, saya dan suami tidak tinggal serumah dengan orang tua sebagaimana lazimnya pasangan baru menikah di Aceh.  Begitu selesai prosesi nikahan di kampung kami di Aceh Selatan, kami kembali ke kota Banda Aceh. Ya, Tuhan menjodohkan saya dengan lelaki yang berasal dari daerah yang sama di Aceh dan sama-sama memiliki aktivitas di kota Banda Aceh.
Saya saat itu sedang mengambil kepaniteraan klinik keperawatan di salah satu rumah sakit umum di Banda Aceh, jadi dengan tergesa-gesa selepas semua acara, kami langsung kembali ke Banda Aceh. Kembali ke Banda Aceh, kembali ke aktifitas kami masing-masing.  Kami memulai hidup baru sebagai sepasang suami istri benar-benar dari nol. Sehabis lamaran sampai nikahan, lalu mengontrak sebuah mungil, membeli peralatan rumah dan peralatan memasak seadanya, suami hanya menyisakan sedikit uang. Sementara saya sama sekali tidak punya tabungan.
Suami saya bukan seorang PNS, juga bukan pegawai  atau karyawan tetap sebuah kantor manapun. Suami akan memiliki pekerjaan jika ada order. Jadi, suami saya bekerja hanya berdasarkan ada atau tidaknya orderan. Jika tidak ada, maka pusinglah kami. Apalagi saat itu, boleh dibilang saya sedang dalam proses pendidikan tahap akhir. Jika sebelumnya saya dibiayai oleh orangtua, maka setelah saya berstatus sebagai istri, otomatis hidup dan mati saya menjadi tanggung jawab suami, termasuk soal pendidikan yang sedang saya jalani. Suami saya juga ingin menunjukkan kalau dia adalah suami yang bertanggung jawab, meski kadang tak jarang kami mengalami masa-masa sulit dalam hal keuangan. Tapi semua kami lalui dengan sabar dan ikhlas. Saya belajar banyak dari suami saya soal menyikapi persoalan hidup dengan santai dan tawakal.
Sejak hari pertama saya dan dia hidup serumah, kami sudah bermimpi bisa memiliki rumah sendiri. Ketika putra pertama kami lahir, keinginan untuk memiliki rumah semakin kuat, apalagi ketika kami mendengar bahwa tak lama lagi anak si pemilik rumah akan menempati rumah yang kami kontrak. Untungnya tak jadi, sehingga kami sedikit lega. Tapi terpikir oleh kami, sampai kapan kami akan terus seperti itu? Dihantui kecemasan setiap kali menjelang akhir masa kontrak rumah yang kami tempati. Hingga anak kami berumur lebih setahun dan saya sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah universitas, kami masih mengontrak rumah yang sama. Kesulitan keuangan belum lepas dari kehidupan kami. Berbagai daftar  rencana mimpi-mimpi kami, belum bisa kami wujudkan.
Memiliki rumah sendiri merupakan daftar pertama dari semua daftar impian kami. Sejak dulu, rumah impian saya adalah rumah dengan banyak bukaan dan kaca. Salah satu contoh rumah sepertini ini ada dalam serial Full House di mana rumahnya bergaya minimalis namun terlihat luas karena banyaknya kaca dan langit-langit yang tinggi. Mungkin impian saya terlalu berlebihan, tapi selagi bermimpi itu gratis, kenapa saya harus bermimpi yang tanggung-tanggung. Kalau kalian punya mimpi, sekalian saja mimpinya setinggi bintang-bintang di langit. Soal nantinya saya hanya hanya mampu mencapai mimpi hanya sebatas bukit kecil, saya tidak masalah. Perjuangan mengejar mimpi adalah cerita tentang bagaimana sebuah usaha maksimal atas mimpi tersebut, bukan soal hasil.
Rumah dalam serial Korea  'Full House'. Mimpi Properti

Senin, 01 April 2013

Cintaku untuk Si Buah Hati


Abel saat berumur 18 bulan
Harapan kami pada si buah hati, mungkin sama seperti harapan-harapn orang tua lainnya di muka bumi ini. Ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, aktif, soleh/solehah, dan tidak kurang satu apapun dari anggota tubuhnya. Aku selalu gerimis menyaksikan bayi-bayi yang lahir dengan kondisi; kembar dempet, tidak punya usus, jantung di luar, hidrocephalus, dan berbagai kekurangan kondisi tubuh lainnya. Untuk itu, kami selalu berdoa dan berikhtiar agar Tuhan memberikan kami anak yang sempurna. Apalagi ini adalah anak pertama kami.

Ikhtiar kami lakukan secara batiniah dan lahiriah. Setiap malam, seusai salat Magrib dan Isya, suamiku selalu membaca ayat-ayat suci. Lebih lama dari yang kulakukan. Ya, aku cepat merasa lelah dan langsung merebahkan badan. Sambil bertilawah, aku diminta merebahkan kepalaku di pangkuannya. Supaya anak kita terbiasa mendengarkan ayat Al Qur’an meski masih dalam kandungan, begitu katanya. Masih dengan aku tidur dipangkuannya, sesuai tilawah, suamiku tak lupa mempohonkan doa, untukku juga untuk bayi kami. Seiring bertambah besarnya kehamilanku dan aku semakin kepayahan, suamiku semakin ekstra memerhatikanku. Tak jarang, kulihat dia menangis ketika sedang mempohonkan doa pada Sang Kekasih.

Minggu, 24 Maret 2013

Namanya Abel

Halooooo...semua...saya membuat blog baru khusus untuk mencatat jejak langkah putra saya bernama Abel dan cerita-cerita yang menyertai tumbuh kembangnya. Mungkin sudah agak telat karena April nanti dia genap berumur empat tahun. Hallooo..saya ke mana ajaaa? Nggak ke mana-mana, kok. Dulu-dulu males bikin blog khusus. Takut tak sempat urus. Tapi karena ternyata saya sering membuat status tentang dia, akhirnya  saya berpikir ulang untuk membuat blog khusus yang berisi catatan tentang putra saya dan keluarga saya. Saat ini putra saya masih satu, dan jika Allah mengijinkan saya punya anak lagi selain Abel, tentunya blog ini akan tambah seru dan rame nantinya.

Ohya, selain memanggilnya dengan nama 'Abel', saya dan ayah Abel sesekali memanggilnya dengan sebutan 'bujang'. Bujang g dalam bahasa Minang berarti anak laki-laki. Saya dan suami berasal dari kabupaten di Aceh yang banyak penduduknya berbicara dalam bahasa Minang.

Baiklah, saya perkenalkan putra saya dulu yaaa..

Jreng...jreng...jreeeng..ini diaaaa si bujang saya